Selasa, 13 Maret 2012

CINDY SAYANG...

CINDY,itulah nama adik pertama saya. Dia kelahiran 26 Agustus 2003.  Dan kini ia berumur 8 tahun. Dia sekolah di SD yang dulu di sanalah saya mengemban ilmu. Perawakannya sedang hanya saja badannya kurus. Sifatnya yang amat sangat pelit membuat saya geram dan tak jarang saya memarahinya. Tapi saya tahu sebenarnya dia itu tidak seperti itu mungkin dia memiliki sifat posesif terhadap barang yang dia miliki. Mungkin dia pernah kehilangan barang yang berharga dan dia mungkin saja mengalami trauma sehingga dia tak ingin melepaskan ataupun meminjamkan barang yang ia miliki kepada orang lain,karena ia takut barang yang ia miliki itu hilang kembali.
Tapi,sungguh malang adik saya ini,dia selalu di marahi oleh mamah. Tak jarang ia dipukul oleh mamah. Aku merasa kasian padanya,sebenarnya saya ingin merangkulnya. Namun saya gengsi,karena saya pun bukan kakak yang baik untuknya. Saya sangat menyayanginya,saya mencintainya. Entah walau aku sering memarahinya,meledeknya,menghina,bahkan menghujat dia,namun sepertinya dia slalu memaafkan orang-orang yang menyakitinya. Tak jarang saya melihatnya menangis di balik bantal gulingnya yang berwarna coklat itu,saya ingin berkata "Sayang,sudah jangan menangis. Kakak disini sama kamu,kamu enggak sendiri." tapi saya gengsi saya takut meneteskan air mata dihadapannya. Karena dimatanya saya adalah kakak yang jarang menangis didepannya,saya takut nantinya suasana malah semakin mengharu biru. Jujur saja,saya paling takut menangis.
Suatu hari saya melihat dia disiksa oleh mamah,hati saya seperti sobek terbagi-bagi ketika melihat adik saya disiksa didepan mata saya sendiri. Sungguh saya tidak tega melihatnya. Sakit saya melihatnya,lalu saya melerai mamah "Sudah Mah,sudah..." sembari saya ingin meneteskan air mata yang aku tampung cukup lama saat itu. Lalu setelah disiksa seperti itu Cindy lari ke kamar,seperti biasa dia memeluk bantal coklatnya lalu menangis di balik bantal coklat itu. Aku mendengar tangisannya namun tidak terlalu keras,mungkin tertahan oleh bantalnya. Saya tertegun mendengarnya menangis,lalu saya membelakanginya. Entah mata ini seperti sedang mengumpulkan air mata atau apa,seketika mata saya berkaca-kaca. Saya merasa bersalah padanya karena saya tidak bisa melindunginya,saya tidak bisa menenangkannya,atau saya tidak mampu untuk merangkulnya. Saya hanya bisa memeluk bantal seperti Cindy lalu saya ikut menangis dan larut di dalam kesedihannya. Dalam hati saya berkata, "Sungguh malang adik saya,begitu rupa dia disiksa oleh mamah. Rasanya hati ini ikut teriris,sakit rasanya. Saya bisa merasakan sakitnya."
Keesokan harinya,ketika Cindy sedang membereskan buku saya bertanya padanya.
"Ndy,kamu sebel enggak sama mamah? Kamu udah disiksa seperti itu sama mamah,pasti rasanya sakit dan sulit memaafkannya"
"Yaaah,Teteh (panggilan adik kepada seorang kakak (B.Sunda)) mamah memang seperti itu sifatnya. Untuk apa saya sebel sama mamah." dengan polosnya dia menjawab.
Dalam hati saya bergumam betapa  mulianya anak ini,tidak seperti saya yang dulu saya pernah benci kepada mamah karena disiksa. Cindy,walaupun dia menerima cacian dari mamah dan saya namun dia tetap bisa tersenym dan bahkan dia mampu bernyanyi. Hatinya bagai sekuat baja yang begitu kuat terhadap siksaan dan cacian. Bahkan dia sering menangis setelah di caci,saya mengerti perasaannya. Dia menangis duduk di kursi tamu,sendiri. Mata dan hidungnya yang merah sangat menunjukan bahwa dia telah mengeluarkan air matanya. Lalu tak berapa lama dia mampu tertawa,dan bernyanyi. Dan sepertinya dia pun mampu memaafkan mamah. Ataupun memaafkan saya.
Terimakasih,Tuhan...
Engkau telah menciptakan adik sekuat Cindy walaupun dia sangat pelit namun dia tetap mampu berdiri sendiri tanpa ada yang menemaninya. Karena mungkin Engkau selalu di sisinya. Tuhan,tetaplah disisinya dan kirimkanlah malaikat-malaikat Mu agar dia tidak kesepian. AMIN :')

1 komentar: